Pages

Rabu, 14 Agustus 2013

TRAINING KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN DIRI AKTIVIS BIDIKMISI

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Disela-sela menghadapi deadline laporan akhir PKM dan banyaknya pesanan Boneka Jari Edubori, ada yang terlewat untuk ditulis, ya... tentang Training Kepemimpinan dan Manajemen Diri Aktivis Bidikmisi yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2013 lalu tepatnya di Aula Arum Dalu Hotel Azaya Bandungan. Karena kegiatan ini cukup mengesankan menurut saya dan banyak pelajaran yang dapat diambil. Kegiatan yang dihadiri 150 mahasiswa aktivis Bidikmisi tersebut dimulai pada pukul 11.00 dan dihadiri oleh Pak Alamsyah selaku pembina mahasiswa Bidikmisi, Pak Hardo serta dibuka secara resmi oleh Pak Heri selaku Kepala BAAK Unnes. Training yang dipewarai oleh Mas Diamond tersebut berisi serangkaian acara, yaitu:

1.   Materi Softskill dan Hardskill Manajemen dari Pak Alamsyah
Karena kegiatan tersebut terlaksana sebulan yang lalu, saya hanya dapat meng-copy paste dari catatan saya yang berupa point-point yang disampaikan oleh Pak Alam yang menurut saya bermakna dan mengena karena penyampaian beliau mirip Pak Mario Teguh (hihi):
·         Sesuatu akan berarti jika bermanfaat bagi yang lainnya
·         Paham bukan hanya sekadar mengerti. Contohnya: Mahasiswa yang masih saja mencontek (dalam hal ini mahasiswa tersebut masih dalam taraf mengerti bahwa mencontek adalah hal yang tidak baik namun tetap saja dilakukan maka mahasiswa tersebut belum paham)
·         Berusahalah  memaknai Alloh secara kaffah (Buka kembali QS. Al Baqoroh ayat 208)
·         Alloh menjamin rizki setiap makhluk dan tercatat di Lauhul Mahfudz (buka kembali QS. Hud ayat 6)
·         Berdasarkan QS. Hud ayat 6 Pak Alam menjelaskan bahwa masa depan kami sebagai mahasiswa Bidikmisi ada di Alloh Subhanahuwata’ala. Tidak perlu takut, tugas kami hanya bermimpi dan berusaha.
·         Pada poin pembahasan “Siapa Kita?”  beliau menggambarkan bahwa
a.   Dari segi waktu kita adalah pendatang terakhir; mengapa? Karena Alloh menciptakan terlebih dahulu secara berurutan BigBang, Milkiway Galax, Sun & Solar, kehidupan di bumi dan barulah manusia ada.
b.   Dari segi ukuran, kita tak lebih dari sekadar debu. Antares bintang terbesar yang  mengalahkan bintang lainnya seperti Matahari, Pollux, Arcturus, dan Betelgese.
Maka dengan ukuan terkecil kita, mau kita buat apa hidup kita yang singkat dan hanya sekali ini. Dan ingatlah ayat “Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum ia mengubahnya sendiri”
Maka berusahalah  menjadi makhluk yang berperan signifikan, kehadiran kita berpengaruh pada apa saja yang ada disekitar kita.
Dan perlu kita sadari bahwa sukses = dipaksa, gagal or miskin = otomatis
Kesuksesan bergantung pada softskill yang kita miliki. Apa gunanya mahasiswa Bidikmisi IP 4,00 tetapi kata-katanya selalu menyakitkan, menyebalkan dan tidak disukai oleh banyak teman. Kita ibaratkan handphone tidak akan berguna jika tidak ada handphone lain. Jadi buat apa menyombongkan diri? Niatkan kuliah sebagai ibadah, karena apa? Ketika kita belajar di perkuliahan, ilmu kita bertambah maka hendaknya semakin menambah keimanan kita kepada Alloh sehingga belajar terasa nikmat. Softskill yang ada di sistem pendidikan Indonesia masih 10% dan 90% nya adalah hardskill yang diajarkan.

Kemudian Pak Alam menjelaskan mengenai asal-usul Nasib...
Thoughtà Action à Habbit à Character à Destiny

Apa yang kita pikirkan akan menjadi tindakan dan kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter dan karakter inilah yang akan menentukan nasib seseorang.
“Jangan Sombong, Jangan Takabbur, Berbuat Baiklah kepada siapapun sehingga kehadiran kita menyenangkan”

2.   Sharing bersama Mahasiswa Berprestasi Unnes
Pada sesi ini acara dihadiri oleh Mas Agus Widodo (Sastra Inggris) Mahasiswa Berprestasi 3 Nasional 2013, Mbak Bunga Amelia (Kimia, FMIPA) Mahasiswa Berprestasi 2 Unnes 2013, Mas Arif (FIS) penerima beasiswa student exchange ke Brunei Darussalam, Mas Muhammad Rizki Adi Pratama (FBS) Juara I Kenang Semarang 2013. Masing-masing dari mahasiswa berprestasi yang hadir memberikan sharing pengalaman mereka. Sedikit point yang saya rangkum dari cerita mas Agus Widodo yaitu ketika kita meraih sesuatu ada hal yang sangat berpengaruh terhadap apa yang kita raih, yaitu: dengan siapa kita mendapatkan, berusahalah menjadi teman baik kepada adik-adik mahasiswa baru, dan berusahalah karena kita tidak akan pernah berhasil jika mencoba saja kita tidak berani. Dari sharing dengan mbak Bunga saya mendapatkan kata yang menurut saya sangat kuat yaitu “gagal adalah awal kesuksesan”. Mas Arif mengatakan bahwa kita harus berani mencoba, entah darimana saja yang penting kita mau untuk mengejar informasi. Sedangkan dari Mas Rizki, saya dapat menyimpulkan bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan keberuntungan masing-masing, maka tetap berusahalah. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan hadirnya PD III dari setiap fakultas.

3.   Ceramah dari Imam Sholat Tarawih dan Witir
Syarat menjadi ahli ilmu:
·         Kecerdasan
·         Semangat
·         Sabar
·         Biaya
·         Bimbingan guru
·         Waktu yang lama


4.   Ceramah ba’da Sholat Tarawih dan Witir Bersama dari Pak Masrukhi (Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan)
Dapat diambil kata yang bermakna “There Is No Growth In Comfort Zone, And There Is No Comfort In Growth Zone”
Yang berarti jika kita ingin tetap berkembang dan maju, maka tidak ada kata nyaman untuk waktu kita, kita harus tegas pada waktu, mengoptimalkan waktu sebaik-baiknya. Dan memang ketika kita hanya berada pada zona nyaman maka dapat dipastikan kita tidak akan maju, karena sukses harus dipaksa dan diri harus ditempa. Hal ini menjadi motivasi yang sangat berharga bagi kami sebagai mahasiswa Bidikmisi yang tidak boleh hanya bermalasan karena kuliah kami gratis dibiayai oleh negara. Padahal bercermin pada Mbak Birrul Qodriyah mahasiswa UGM yang menerima penghargaan sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi sekaligus mawapres inspiratif 2013, yang menyatakan bahwa beliau akan memberikan dan membalas jasa negara setelah lulus dan bekerja. Karakter mahasiswa Bidikmisi harus tangguh dan terus berusaha tanpa putus asa.

5.   Materi Ukhuwah Islamiyah dari Pak Nindya Candra Raharja (Alumnus Unnes FBS dan eks-Mapres Unnes) menyampaikan materi tentang tingkatan ukhuwah, dan pada akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa jangan pernah berpikir kita dimanfaatkan tetapi berusahalah untuk berpikir bagaimana kita menjadi bermanfaat. Pintar IP tinggi tapi tidak punya kepekaan sosial, tidak dapat dijadikan panutan di lingkungannya, maka percuma menjadi mahasiswa.


Terima kasih, semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmah... mohon maaf bila ada kesalahan penulisan... semua hanya curahan ide semata tanpa kaidah bahasa yang diajarkan oleh Pak Diamond (Dosen Bahasa Indonesia). Hehe ^_^

Senin, 22 Juli 2013

KEBERUNTUNGAN


Allah telah memberi modal yang sama kepada setiap orang berupa waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Jika setiap orang mempunyai modal yang sama, bagaimana caranya agar kita menjadi pedagang yang memperoleh keuntungan luar biasa di akhir perdagangan ini?
Apakah orang yang pandai mengelola waktu adalah orang yang waktunya habis untuk menekuni pelajaran-pelajaran kuliah? Ataukah orang yang sibuk bekerja dan mendapat uang yang banyak? Ataukah orang yang sibuk berorganisasi? Ataukah mereka yang lelah dan letih berpeluh berkeringat semata-mata untuk dunia?

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallammemgang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadikanlah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.’” Lalu Ibnu `Umar radhiyallahu `anhu berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka jangnlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. Bukhari).

Jangan kita habiskan hidup ini untuk mengejar jabatan, kedudukan, karir dan prestasi duniawi, sedangkan persoalan mendasar dalam agama justru kita sepelekan. Sungguh merupakan pengaturan waktu yang buruk ketika seorang muslim menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam sehari untuk dunia sedangkan waktu untuk mengurusi akhiratnya hanya dia sisihkan dari sisa-sisa waktu yang terselip.

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” (QS. Al-Kahfi: 104)

Alangkah jeli Imam Syafi’i rahimahullah tatkala berkata, “Jika kamu khawatir terjangkiti ujub atau merasa banyak amal, maka ingatlah tiga hal; ridha siapa yang kamu cari, kenikmatan manakah yang kamu cari, dan dari bahaya manakah kamu hendak lari. Maka barang siapa merenungkan tiga hal tersebut, niscaya dia akan memandang remeh apa yang telah dicapainya.”

Pertanyaan pertama, tentu akan kita jawab bahwa ridha Allah yang kita cari. Tapi apakah setiap langkah, gerak-gerik kita, diam dan bicara kita menunjukkan sebagai orang yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuannya? Bandingkanlah dengan usaha dan pengorbanan kita saat ingin mendapatkan ridha manusia; atasan, pemimpin, penguasa dan manusia seluruhnya. Niscaya kita akan menyadari, bahwa apa yang kita lakukan untuk keridhaan manusia dan keridhaan nafsu masih lebih dominan.

Pertanyaan kedua tentu akan kita jawab bahwa kenikmatan jannahlah yang kita cari. Tapi cobalah membandingkan; kerja kita untuk dunia dan kerja kita untuk akhirat, manakah yang lebih menonjol dari sisi kualitas maupun kuantitasnya? Padahal kerja akhirat kita untuk kenikmatan tiada tara dan tak ada habisnya.

Pertanyaan ketiga, tentu kita akan menjawab bahwa kita lari dari bahaya neraka. Lagi-lagi kita perlu mengoreksi secara jujur. Seberapa gigih usaha kita dalam menghindari neraka. Bandingkanlah dengan usaha kita tatkala takut dan lari dari penyakit, lari dari kemiskinan, atau ketika takut akan hilangnya kehormatan di mata manusia. Dengan memikirkan tiga hal itu, kita akan sadar betapa amal kita belum seberapa.


Sesungguhnya ilmu dicari untuk diamalkan, bukan hanya untuk menambah tumpukan catatan. Jangan lupa mengevaluasi diri (muhasabah) sebelum tidur. Perbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah.

“Teruslah Bermimpi Tetapi Jangan Lupa Untuk Mewujudkannya, Bangunlah Dan Wujudkanlah.... Sekarang, Tinggalkan Beban dan Bawalah Bekal Perjalanan....”

Sumber Bacaan: 
http://www.dakwatuna.com

MUHASABAH

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah SAW., bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

[Kegagalan] Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar menjadi orang yang pandai dan sukses.

[Aspek Ibadah]
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

[Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki]
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)

[Aspek Kehidupan Sosial Keislaman]
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:
“Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.

[Aspek Dakwah]
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]


“Haasibuanfusakum qobla antuhaasib” –Umar bin Khatab-


Sumber Bacaan:
www.dakwatuna.com

Kamis, 06 Juni 2013

Windows 7 Speech Recognition



Today I got information about an application for improving my English Speaking. I am so surprised when a lecturer show me the technology to train my pronounciation in daily. Speech Recognition has been serviced by Windows 7 since about 3 years ago . Wow! So surprising. And then I was very interested to try. I opened my Netbook and try to follow the steps to set up the Speech Recognition.

Speech recognition can help you avoid repetitive stress injuries, increase efficiency,  and even be fun. You can launch programs, dictate text, scroll Web pages, and more, all by voice. Here's how:
Step 1: Go to Start > Control Panel > Ease of Access > Speech Recognition, and click on "Start Speech Recognition."
Step 2: Run through the Speech Recognition Wizard by selecting the type of microphone you'll be using and by reading a sample line aloud.
Step 3: Once you've completed the Wizard, take the tutorial. We highly recommend going through the entire tutorial. It's a little long, but it will help you learn how to use speech recognition, while training your computer to learn the way you speak. It will teach you the basics, dictation, commanding, and working with Windows.
Step 4: After the tutorial, you'll see a speech recognition status window at the top of your screen. During your session, helpful information will display in the status window. You can also mouse-click on the microphone icon to enable or disable speech recognition.
Step 5: To further train your computer to learn your voice, click on the "Train your computer to better understand you." This will run through another series of sentences to read aloud.
Step 6: If you forget how to use parts of speech recognition, refer to the Speech Reference Card for help.

Tip: It's helpful to memorize keyboard shortcuts for actions you perform frequently. For example, you can say, "press F5" to refresh your browser or "press Control Tab" to switch tabs.
That's it. Now you know how to control your computer and dictate documents by voice. It might take a little time to get used to using voice commands, but hopefully it'll pay off in the end.

But it is important to speak fluently for the best pronounciation, so the Speech Recognition can detect what we say and the text would be typed correctly.

Wow It so Amazing :D I can build up my pronounciation skill using Speech Recognition.

Senin, 03 Juni 2013

MENGAPA DOA KITA TIDAK DIKABULKAN?


Doa merupakan suatu harapan yang kita minta kepada Alloh Subhanahuwata’ala yang kita harapkan untuk dikabulkan. Dalam berdoa, kita harus memperhatikan adab-adabnya. Marilah kita merenung sejenak, sudahkah benar ibadah kita? Mengapa terkadang doa yang kita panjatkan, sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi dan kita tidak mendapatkan Ridho-Nya?

Tata Cara Berdizikir Dan Berdoa
Qs Al-‘arof 205 (Berdzikir)
205.  Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Al-A’rof ayat 55 (Berdoa)
55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Maksudnya: melampaui batas tentang YANG DIMINTA DAN CARA MEMINTA.
          
Mengapa DOA di TOLAK.
“Jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu “, kata Abdul Qadir-Jailani dalam Mafatih al Ghaib. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa doa kita tak terkabul?
           
Ada Dua Sebab Mengapa Doa Tertolak:
Pertama, Tidak Memperhatikan Adab Berdoa, Baik Adab Lahir Maupun Adab Batin.
           Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang hamba Allah tetap dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk sesuatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim atau tak terburu-buru segera dikabulkan.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud terburu-buru?” Rasulullah menjawab, “Ia mengatakan, ‘aku telah berdoa tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan’, sehingga ia mengabaikan dan meninggalkan doanya itu,” (HR Muslim).
           Ketika suatu doa tak segera menampakkan tanda-tanda terijabah, maka seharusnya seseorang berbaik sangka kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT akan mengganti bentuk pengabulan doa dengan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi si pemohon atau ditunda pengabulannya hingga hari akhirat dalam bentuk deposito pahala.

Kedua, Perilaku Buruk.
Syaqiq al-Baikhi bercerita; ketika Ibrahim bin Adham berjalan di pasar-pasar Bashar, orang-orang mengerumuni beliau. Mereka bertanya, mengapa Allah belum juga mengabulkan doa mereka padahal telah bertahun-tahun berdoa, serta bukankah Allah berfirman, “Berdoalah kalian, maka Aku mengabulkan doa kalian.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Hatimu telah mati dari sepuluh perkara,” Yakni:
Pertama; engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan hakNya.
Kedua; engkau membaca kitab Allah, tetapi tidak mau mempraktikkan isinya.
Ketiga; engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunannya.
Keempat, engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunah beliau.
Kelima; engkau mengaku senang surga, tetapi tidak berbuat menuju kepadanya.
Keenam; engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa.
Ketujuh; engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kedelapan; engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri.
Kesembilan; engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur padaNya.
Kesepuluh; engkau menguburkan orang-orang, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Astaghfirulloh... apakah kita sudah memperhatikan kesepuluh perkara diatas?

Allah perintahkan “Berdoalah kepada-KU, niscaya AKU akan mengabulkanya”

Kajian Tafsir di Ibnu Sina oleh Bapak Anwar Sutoyo.
Senin 2 Juni 2013/ 24 Rajab 1434 H

Rabu, 24 April 2013

PKM KEWIRAUSAHAAN UNNES 2013


PKM KEWIRAUSAHAAN UNNES 2013

Alhamdulillah di tahun 2013 ini usulan PKMK saya yang berjudul “EDUBORI: Pemanfaatan Kain Perca Menjadi Boneka Jari Sebagai Alternatif Permainan Edukatif Anak Usia Dini” didani oleh DIKTI lagi. Perbaikan dari segi tim terus saya lakukan untuk memaksimalkan pelaksanaan program. Melanjutkan proses belajar berbisnis dari pengalaman tahun lalu, kewirausahaan tetap menjadi passion saya untuk penulisan PKM walaupun sebenarnya ingin merambah ke bidang Pengabdian Masyarakat dan Penelitian. Semoga bisa tercapai tahun depan. Aamiin.

Berbicara mengenai kewirausahaan, PKMK hanya sebagian kecil stimulus untuk menggugah jiwa dalam berwirausaha. Sejatinya, ketika kita sudah berani mengambil keputusan untuk berwirausaha, hal tersebut harus didukung dengan totalitas tenaga, waktu, pikiran dan biaya yang tidak tanggung-tanggung, karena seperti yang kita ketahui dalam bisnis apabila kita melaksanakannya tanggung-tanggung maka hasil yang didapatkan pun juga tanggung-tanggung. Semua kembali kepada keberanian mengambil resiko. Ketika memutuskan untuk memulai bisnis dari nol, maka hal ini tidak mudah. Karena keterbatasan segala sesuatu mulai dari sumber daya baik manusia maupun modal.

Perencanaan harus matang dan memang dalam memulai “bisnis dari nol” membutuhkan tim yang solid dan orang-orang yang berorientasi sama dengan founder atau CEO-nya supaya apa yang ingin dicapai dalam bisnis bisa terwujud. Belum lagi pengurusan kebijakan produk, mulai dari desain kemasan produk, harga jual, penentuan profit margin, sampai dengan target produksi dan penjualan. Pada prinsipnya berbisnis jangan tanggung-tanggung, berani malu, berani ambil resiko, berani untung, berani rugi, berani keluar tenaga-pikiran-biaya-waktu yang banyak, semuanya seakan bermodalkan keberanian.

Keberanian untuk tidak tanggung-tanggung seakan tertutupi oleh keterbatasan modal yang didapat karena dana pelaksanaan yang “macet”. Tetapi sebenarnya hal tersebut bukan menjadi alasan yang utama, karena yang penting adalah berani mengisi peluang secepatnya dan mengambil andil dalam pasar yang luas. Dengan begitu produk akan mudah diterima oleh konsumen. Soal modal bisa didapat dengan memanfaatkan yang ada.

Kembali lagi ke PKMK, produk yang saya buat adalah boneka jari “Edubori”. Ide yang muncul dari pemanfaatan perca untuk aplikasi boneka jari. Desain yang cetar membahana harus ditarik lagi karena pemesanan ke tempat offset minimal harus sejumlah 1000 kemasan. Hal ini sungguh memberatkan karena modal yang dibutuhkan tidak sedikit. Produksi terkendala oleh tenaga yang bersifat padat karya dan produknya yang 100% handmade.

Masa penjualan adalah selama bulan Mei hingga Juni karena dari info yang saya dapatkan Monev DIKTI dilaksanakan sekitar bulan Juli dan PIMNAS dilaksanakan bulan September. Masih ada waktu untuk melaksanakan target-target produksi dan penjualan serta promosi. Dan masih ada waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya menuju PIMNAS 2013 yang InsyaAllah akan dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat tepatnya di Universitas Mataram. Semoga bisa terbang kesana untuk membawa produk boneka jari “Edubori” Go National dan menjadi produk permainan edukatif anak usia dini yang 100% asli Indonesia dan diharapkan bisa menjadi icon boneka jari nasional.

Yang masih menjadi kendala adalah pengurusan untuk hak Merk Dagang yang bisa Terdaftar secara nasional, produksi yang harus dalam jumlah besar, dan media promosi yang berbasis IT untuk kemudahan akses pembelian dalam lingkup pasar yang luas. Selain itu persiapan presentasi bisnis yang memukau harus saya pikirkan mulai dari sekarang untuk menarik reviewer, seperti dengan mempelajari program aplikasi pembuatan presentasi Prezi.

PIMNAS 2013 “UNGGUL DAN BERPRESTASI!”

Minggu, 11 November 2012

SMALL GROUP DISCUSSION (SGD)


SMALL GROUP DISCUSSION (SGD)

Small Group Discussion (SGD) merupakan salah satu metode pembelajaran student-centred. SGD adalah diskusi kelompok kecil yang terdiri dari 10-11 mahasiswa dengan didampingi oleh tutor. Dalam diskusi ini mahasiswa-mahasiswa tersebut diberi tugas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan dalam waktu tertentu. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab akan dibawa ke kuliah narasumber, tetapi apabila tidak ada pertanyaan dari mahasiswa maka kuliah narasumber ditiadakan.
SGD merupakan diskusi antar anggota dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan/tugas. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan tersebut merupakan pendalaman dari materi yang diberikan dalam mini lecture. Tugas tersebut juga dilengkapi dengan daftar pustaka yang dapat dijadikan literatur (terdapat pada modul mata kuliah) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Diharapkan mahasiswa sudah menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut sebelumnya sehingga saat mini lecture yang terjadi adalah diskusi antara mahasiswa dan dosen pengampu, kemudian hasilnya akan disampaikan pada anggota kelompok lainnya dalam small group discussion. Pertanyaan-pertanyaan dalam SGD akan dijadikan materi ujian Multiple Choice Questions.
Tujuan penerapan SGD dalam pembelajaran:
a.    Melatih kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
b.    Melatih mahasiswa untuk mencapai metode pembelajaran students centred learning.
c.    Menambah pengetahuan/informasi.
d.    Saling membantu sesama anggota kelompok.

Manfaat dari penerapan SGD dalam pembelajaran
a.    Tugas dapat diselesaikan dengan mudah karena dikerjakan secara bersama-sama
b.    Dengan adanya diskusi maka berbagai pendapat yang disampaikan oleh anggota kelompok dapat menambah pengetahuan seluruh anggota kelompok
c.    Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan maka mahasiswa terbantu untuk lebih memahami materi yang sedang dipelajari serta terbantu untuk membuat ringkasan sehingga mempermudah belajar.
d.    Membantu mahasiswa dapat mencapai learning objectives.

Penerapan SGD dalam Evaluasi Pembelajaran
            Ternyata baru saya tahu bahwa SGD bisa diterapkan sebagai metode evaluasi pembelajaran mata kuliah bagi mahasiswa. Pengalaman ini saya dapat ketika saya mengikuti Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Psikologi Pendidikan. Awalnya saya bingung ketika seminggu sebelum pelaksanaan ujian dosen pengampu mengumumkan bahwa beliau menghendaki ujian lisan. Saya pun putar otak, Bagaimana ya bentuknya? Bagaimana cara saya belajar untuk menguasai materinya karena mata kuliah tersebut berjumlah 3 SKS? kemudian Bagaimana pula dosen tersebut menilai jawaban saya dan apa kriteria atau tolak ukur dari jawaban saya?
Saya tetap menebak-nebak apakah bentuk dari ujian lisan tersebut berupa analisis penyelesaian kasus secara individu atau kelompok. Pertanyaan-pertanyaan saya tersebut diatas terjawab pada saat hari dimana saya harus ujian. Ternyata bentuk ujiannya adalah dengan menerapkan metode Small Group Discussion (SGD). Awalnya saya juga masih bingung, karena ini kali pertama saya menemui metode evaluasi dengan berdiskusi secara kelompok antar mahasiswa. Kebetulan kelompok saya adalah kelompok yang terakhir kali diuji dan berjumlah 8 mahasiswa. Setelah memasuki ruang ujian, hanya ada kelompok kami dan dosen penguji dimana dosen menjelaskan bahwa beliau hanya berperan sebagai fasilitator. Kami diharuskan untuk berdiskusi satu sama lain. Kelompok saya terdiri dari Angga Adistia Wijaya, Ibnu Ramadhani, Siti Fathurrohmah dan Dian Pratiwi. Kelompok kami diberi kasus sebagai pertanyaannya, dan kami harus menjawabnya melalui diskusi bersama dan jawaban harus dikaitkan dengan teori yang sudah dipelajari sejak awal pertemuan sehingga jawaban bukanlah Common Sense (pendapat subjektif belaka), tetapi ada dasar teoritis yang menjadi alasan untuk memperkuat hasil-hasil diskusi kami dan sifat ujian tersebut adalah closed-book. Pertanyaan yang diberikan cukup singkat, hanya ada satu dan kami diberi waktu sekitar 25 menit untuk mendiskusikan. Dosen sebagai fasilitator memberikan satu kasus pertanyaan: “Misalkan saudara adalah perumus kebijakan dalam suatu Yayasan Pendidikan, diskusikan mengenai metode pembelajaran apa yang paling tepat dan sesuai untuk siswa-siswa yang ada di Yayasan Pendidikan Saudara mulai dari SD, SMP dan SMA”
Diskusi dimulai dengan pemilihan ketua diskusi, saya dipilih oleh teman-teman satu kelompok sebagai ketuanya untuk mengatur jalannya proses diskusi. Kami hanya sempat membahas untuk menentukan metode pembelajaran bagi siswa SD dan SMP saja. Diawali dari topik SD, semua berpendapat tentang metode yang tepat, tetapi kemudian diakhir keputusan yang saya tekankan pada teori seperti yang diharuskan oleh fasilitator, untuk siswa SD lebih ditekankan pada teori perkembangan kognitif dan bahasa, dimana menurut pandangan Piaget, usia SD adalah usia dimana anak memasuki awal masa operasional dan perlu dikembangkan ketrampilan motoriknya sesuai dengan tugas perkembangan anak dimana masih sering berbicara dengan benda-benda mati. Dan di usia 11-12 tahun menurut Kohlberg juga anak sudah mampu memiliki penilaian moral untuk membedakan hal yang baik dan buruk. Untuk SMP lebih ditekankan pada teori dimana metode yang digunakan sebaiknya adalah banyak berdiskusi kelompok karena masa-masa SMP adalah masa puber atau peralihan dari masa kanak-kanak ke remaja awal, jadi menurut pandangan Vygotsky tentang Zone of Proximal Developmental (ZPD) anak harus dibantu untuk menyelesaikan kesulitan yang belum bisa dihadapai sendirian. Masa SMP anak lebih mengutamakan bagaimana ia bisa diterima oleh kelompoknya, hampir sama dengan siswa SMA. Semua metode juga harus disesuaikan dengan kurikulum yang sekarang berlaku yaitu KTSP sehingga setiap tujuan dari metode pembelajaran dapat mengarahkan siswa dalam mencapai tujuan pembelajarn sesuai dengan tujuan KTSP yaitu mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Saat alarm berbunyi berarti menandakan bahwa waktu berdiskusi telah habis, fasilitator pun menyimpulkan bahwa over all kelompok kami yang paling banyak menggunaka teori dalam menjawab. Ternyata demikian prosesnya. Tetapi walaupun demikian saya masih belum mengerti bagaimana sistem penilaiannya dari evaluasi pembelajaran yang menggunakan metode SGD. Sungguh pengalaman belajar yang sangat bermanfaat...