Pages

Jumat, 20 September 2013

KKL MANDIRI 2013 #1



Sabtu, 24 Agustus 2013

Pagi hari pukul 08.00 kami sudah bersiap untuk upacara pemberangkatan menuju ke Bali. Pemberangkatan dibuka oleh Bapak Marimin dan dipandu oleh Amin Wasono selaku Ketua Panitia KKL Mandiri PAP 2013. Instansi yang kami jadikan objek KKL adalah Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Bali di Denpasar. Perjalanan kami ke Bali didampingi oleh tiga orang dosen yaitu Bapak Marimin (Ketua Laboraturium Pendidikan Ekonomi) di Bis 1, Bapak Ade Rustiana (Dosen Administrasi Perkantoran) di Bis 2 dan Bapak Hasan Setiaji (Dosen Ekonomi Pembangunan) di Bis 3.  Peserta KKL Mandiri 2013 PAP ini diikuti oleh 118 Mahasiswa PAP.A dan PAP.B 2011.



Kebetulan saya berada di Bis 3, sebelum tadinya di Bis 2 tetapi karena di Bis 3 tidak ada seksi dokumentasi maka saya pindah ke Bis 3 dan malah satu seat sendirian. Kami berangkat pukul 09.00 dan Tour Leader kami dibantu oleh Aan Ikhsananto sebagai koordinator Bis 3.

Makan Siang Dulu di Rumah Taman Sari Jawa Timur di depan Laut :)


Pas Malamnya saya tidak kuat untuk makan malam karena sudah ngantuk jadi foto saja sambil menunggu teman yang lain :)





Rabu, 04 September 2013

Setiap Orang Punya Kepentingan dan Keinginannya SENDIRI


Tulisan ini terinspirasi dari lingkungan sekitar yang saya temui. Beberapa orang yang saya kenal telah menarik perhatian saya selama ini. Mengapa? Karena mereka aneh dimata saya. Aneh disini bukanlah unik yang saya maksud, melainkan hal yang kurang umum menurut saya. Mungkin tulisan ini terlalu subjektif, tetapi saya hanya mencoba mengambil hikmah dari inspirasi yang saya dapatkan.

Langsung saja ke titik pembahasan yang membuat hati saya merasa geram, gemes dan sedikit sedih dengan hal seperti ini.

Sebut saja P, dia adalah mahasiswa lain jurusan, adik tingkat saya yang berada dalam 1 organisasi bersama saya. Pada awalnya saya sedikit penasaran dengannya, sebutan ‘ikhwan’ pantas ia dapatkan karena memang penampilannya yang calm dan pendiam. Pertama kali masuk kedalam organisasi, saya coba dekati dia, karena memang sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai kepala departemen PSDM yang berupaya mempererat hubungan internal antar pengurus. Namun, setelah berselang beberapa waktu, saya semakin kurang ‘sreg’ dengan caranya, dia mulai menunjukkan bahwa dia tidak nyaman berada dalam organisasi yang kami ikuti, bahkan mungkin tidak suka dan terkesan ‘acuh’ dengan apa yang ada. Terbukti ketika pelaksanaan program yang memang harus dikerjakan oleh departemennya dia terlihat kurang ‘koordinatif’ dan malah yang paling parahnya dia melimpahkan tugasnya kepada saya, dengan alasan dia masih sibuk mengelola blognya. Semakin kesini semakin menjadi, entah mengapa perhatian saya selalu terfokus pada perilaku pengurus yang satu ini, karena memang dia juga mengikuti organisasi lainnya. Dan pada akhirnya saya terus mengamati, semakin terlihat kalau memang dia tidak ber-‘passion’ di organisasi yang kami ikuti. Nah puncaknya ketika saya terus mengamati setiap status facebook yang selalu diupdate olehnya. Semua memang bernuansa Islam, sesuai dengan organisasi kerohanian islam yang ia ikuti. Ketika perjalanan studi banding yang pada saat itu dilakukan ke salah satu kota di Jawa Tengah, ia malah sibuk update status dan tidak membaur dengan yang lainnya. Dia memang mahasiswa yang kemampuan akademiknya tinggi, ber-IP tinggi, aktif blogging dan aktif di Kerohanian Islam. Warna berbeda ketika ia berada dan berkumpul bersama dengan organisasi yang kami ikuti, ya itu tadi, dia lebih banyak diam, dan memang sudah acuh dengan yang ada.... Tapi jujur rasanya melihat hal seperti itu sangat menyakitkan (hehehe) entah mungkin karena saya yang terlalu loyal pada organisasi. Bagaimana tidak, di organisasi A dia acuh, diam dan pasif bahkan melempar tugas, sedangkan di organisasi B dia sangat giat, dan terlihat sangat antusias untuk berkontribusi. Ibarat kata punya pacar rasanya itu diduain (heuheuheu :D)

Next, lanjut ke kisah dengan orang yang berbeda, sama anehnya dengan yang pertama...

Sebut saja M, dia adalah mahasiswi berbeda fakultas yang saya kenal, sebut saja kami memang satu atap dan duduk di semester yang sama. Yang lain sekamar berdua eh yang ini sekamar sendiri, ya memang tidak hanya dia sih heuheu. Orangnya sama, calm  dan pendiam, tapi bisa ya punya pacar. Lho kok? Wkwk lanjut.. sama seperti yang pertama, dia selalu update status facebook, ibarat kata nih ‘no days without updating facebook status’ daah... kalau orang Jawa bilang, “sitik-sitik update” haha. (memang begitu adanya) :D

Nah yang satu ini, dia anehnya sama, setiap hari update status, sosmed mengetahui segala aktivitasnya, eh nah giliran bergaul sama teman-teman satu atapnya jaranggg bangetttt. Dan sampai status yang sempat saya temui “gak punya teman itu lebih menyakitkan daripada gak punya pacar” kurang lebih isinya seperti itu. What?! Nah maksudnyah??? Selama ini tetangganya dianggap apa yah? Heuheu. Ya mampu sendiri sih, segala hal bisa sendiri, tapi namanya satu atap saling kenal hidup seperti keluarga yang saling berkomunikasi, tidak acuh dan tidak merasa tidak dianggap itu penting... Hmmm.. heran kan saya...

Oke deh, cukup 2 kisah itu tadi yang menginspirasi saya, dan bisa saya ambil kesimpulan yang bisa dilihat dari kedua kisah diatas:
1.    P dan M sama-sama pendiam dan sibuk dengan facebook mereka, sama-sama suka update status disaat ada orang-orang disekitarnya yang bahkan tanpa mereka sadari orang-orang disekitar mereka sangat perhatian pada mereka.
2.    P dan M aneh, dan mereka mempunyai jalan pemikiran dan gaya hidup sendiri.
3.    Keduanya sama-sama kurang bisa menghargai orang-orang yang pada  saat bersamanya sangat membutuhkan responnya.
4.    Keduanya sama-sama mempunyai kepentingan dan keinginan yang mungkin akan sulit dipahami orang-orang disekitarnya karena sikap calm dan pendiam mereka.
5.    Sebenarnya mudah saja, jangan jadikan facebook atau sosmed itu sebagai teman, karena teman sebenarnya akan kurang menghargai...Bagaimana tidak? Nah orang teman-temannya juga masih ada, malah yang tahu setiap masalah, kabar, info dan unek-unek malah sosmed.


Hikmah yang bisa saya ambil adalah:
“Jangan pernah merasa kita tidak dianggap di lingkungan dimana kita berada. Jika memang benar adanya banyak yang tidak menyukai kita, maka berusahalah untuk menyenangkan mereka, bagaimanapun bentuknya dan caranya karena dimana kita berada, disitulah kita bisa dinilai bahwa kita adalah orang yang bermanfaat kehadirannya atau tidak.”

“Jangan pernah mau untuk dikendalikan oleh teknologi maupun sosial media yang ada, tapi kitalah yang mengendalikan”

“Orang-orang disekitar kita masih cukup banyak kan? Masih cukup untuk berbagi keluh kesah, bahagia, galau dan rasa lainnya kan? So, jangan pernah deh merasa sendiri dan merasa bahwa kita adalah individu yang paling menderita sedunia karena tak berkawan. Hapus buang jauh-jauh pikiran seperti itu karena hal itu hanya membuat kita merasa tak berguna bagi orang-orang yang ada di sekitar kita”
Ingatlah teman, diam itu emas, tapi ada waktunya. Ada saatnya kita sendiri bersama Alloh, ada saatnya kita berkomunikasi dengan orang-orang disekitar kita. Kita akademisi yang butuh berbagi pikiran, setiap diri mempunyai kepentingan, kehendak dan keinginan sendiri, itulah anehnya kita, jadi jangan diperparah dengan sikap dan perilaku yang “susiri: suka sibuk sendiri” J Berusahalah untuk tawazun urusan dunia dan akhirat, seimbangkan porsi Hablumminalloh (berbuat baik kepada Alloh) dan Hablumminannas (berbuat baik kepada sesama manusia)
Tawazun dan Sinergi... Hidup ini butuh kedua hal tersebut untuk melengkapi warna perjalanannya tanpa melukai siapapun...
*Bukan bermaksud menjelekkan individu, tapi inilah inspirasi, bebas namun tetap terbatas, kita hidup dan kita berkarya karena kita bersama berusaha menjadi makhluk-Nya yang bermanfaat... Karena yang beruntung yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran*

Sekian dulu, Mohon Maaf atas segala kesalahan... Semoga dapat diambil hikmah.. Semoga bermanfaat J

Rabu, 14 Agustus 2013

TRAINING KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN DIRI AKTIVIS BIDIKMISI

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Disela-sela menghadapi deadline laporan akhir PKM dan banyaknya pesanan Boneka Jari Edubori, ada yang terlewat untuk ditulis, ya... tentang Training Kepemimpinan dan Manajemen Diri Aktivis Bidikmisi yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2013 lalu tepatnya di Aula Arum Dalu Hotel Azaya Bandungan. Karena kegiatan ini cukup mengesankan menurut saya dan banyak pelajaran yang dapat diambil. Kegiatan yang dihadiri 150 mahasiswa aktivis Bidikmisi tersebut dimulai pada pukul 11.00 dan dihadiri oleh Pak Alamsyah selaku pembina mahasiswa Bidikmisi, Pak Hardo serta dibuka secara resmi oleh Pak Heri selaku Kepala BAAK Unnes. Training yang dipewarai oleh Mas Diamond tersebut berisi serangkaian acara, yaitu:

1.   Materi Softskill dan Hardskill Manajemen dari Pak Alamsyah
Karena kegiatan tersebut terlaksana sebulan yang lalu, saya hanya dapat meng-copy paste dari catatan saya yang berupa point-point yang disampaikan oleh Pak Alam yang menurut saya bermakna dan mengena karena penyampaian beliau mirip Pak Mario Teguh (hihi):
·         Sesuatu akan berarti jika bermanfaat bagi yang lainnya
·         Paham bukan hanya sekadar mengerti. Contohnya: Mahasiswa yang masih saja mencontek (dalam hal ini mahasiswa tersebut masih dalam taraf mengerti bahwa mencontek adalah hal yang tidak baik namun tetap saja dilakukan maka mahasiswa tersebut belum paham)
·         Berusahalah  memaknai Alloh secara kaffah (Buka kembali QS. Al Baqoroh ayat 208)
·         Alloh menjamin rizki setiap makhluk dan tercatat di Lauhul Mahfudz (buka kembali QS. Hud ayat 6)
·         Berdasarkan QS. Hud ayat 6 Pak Alam menjelaskan bahwa masa depan kami sebagai mahasiswa Bidikmisi ada di Alloh Subhanahuwata’ala. Tidak perlu takut, tugas kami hanya bermimpi dan berusaha.
·         Pada poin pembahasan “Siapa Kita?”  beliau menggambarkan bahwa
a.   Dari segi waktu kita adalah pendatang terakhir; mengapa? Karena Alloh menciptakan terlebih dahulu secara berurutan BigBang, Milkiway Galax, Sun & Solar, kehidupan di bumi dan barulah manusia ada.
b.   Dari segi ukuran, kita tak lebih dari sekadar debu. Antares bintang terbesar yang  mengalahkan bintang lainnya seperti Matahari, Pollux, Arcturus, dan Betelgese.
Maka dengan ukuan terkecil kita, mau kita buat apa hidup kita yang singkat dan hanya sekali ini. Dan ingatlah ayat “Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum ia mengubahnya sendiri”
Maka berusahalah  menjadi makhluk yang berperan signifikan, kehadiran kita berpengaruh pada apa saja yang ada disekitar kita.
Dan perlu kita sadari bahwa sukses = dipaksa, gagal or miskin = otomatis
Kesuksesan bergantung pada softskill yang kita miliki. Apa gunanya mahasiswa Bidikmisi IP 4,00 tetapi kata-katanya selalu menyakitkan, menyebalkan dan tidak disukai oleh banyak teman. Kita ibaratkan handphone tidak akan berguna jika tidak ada handphone lain. Jadi buat apa menyombongkan diri? Niatkan kuliah sebagai ibadah, karena apa? Ketika kita belajar di perkuliahan, ilmu kita bertambah maka hendaknya semakin menambah keimanan kita kepada Alloh sehingga belajar terasa nikmat. Softskill yang ada di sistem pendidikan Indonesia masih 10% dan 90% nya adalah hardskill yang diajarkan.

Kemudian Pak Alam menjelaskan mengenai asal-usul Nasib...
Thoughtà Action à Habbit à Character à Destiny

Apa yang kita pikirkan akan menjadi tindakan dan kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter dan karakter inilah yang akan menentukan nasib seseorang.
“Jangan Sombong, Jangan Takabbur, Berbuat Baiklah kepada siapapun sehingga kehadiran kita menyenangkan”

2.   Sharing bersama Mahasiswa Berprestasi Unnes
Pada sesi ini acara dihadiri oleh Mas Agus Widodo (Sastra Inggris) Mahasiswa Berprestasi 3 Nasional 2013, Mbak Bunga Amelia (Kimia, FMIPA) Mahasiswa Berprestasi 2 Unnes 2013, Mas Arif (FIS) penerima beasiswa student exchange ke Brunei Darussalam, Mas Muhammad Rizki Adi Pratama (FBS) Juara I Kenang Semarang 2013. Masing-masing dari mahasiswa berprestasi yang hadir memberikan sharing pengalaman mereka. Sedikit point yang saya rangkum dari cerita mas Agus Widodo yaitu ketika kita meraih sesuatu ada hal yang sangat berpengaruh terhadap apa yang kita raih, yaitu: dengan siapa kita mendapatkan, berusahalah menjadi teman baik kepada adik-adik mahasiswa baru, dan berusahalah karena kita tidak akan pernah berhasil jika mencoba saja kita tidak berani. Dari sharing dengan mbak Bunga saya mendapatkan kata yang menurut saya sangat kuat yaitu “gagal adalah awal kesuksesan”. Mas Arif mengatakan bahwa kita harus berani mencoba, entah darimana saja yang penting kita mau untuk mengejar informasi. Sedangkan dari Mas Rizki, saya dapat menyimpulkan bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan keberuntungan masing-masing, maka tetap berusahalah. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan hadirnya PD III dari setiap fakultas.

3.   Ceramah dari Imam Sholat Tarawih dan Witir
Syarat menjadi ahli ilmu:
·         Kecerdasan
·         Semangat
·         Sabar
·         Biaya
·         Bimbingan guru
·         Waktu yang lama


4.   Ceramah ba’da Sholat Tarawih dan Witir Bersama dari Pak Masrukhi (Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan)
Dapat diambil kata yang bermakna “There Is No Growth In Comfort Zone, And There Is No Comfort In Growth Zone”
Yang berarti jika kita ingin tetap berkembang dan maju, maka tidak ada kata nyaman untuk waktu kita, kita harus tegas pada waktu, mengoptimalkan waktu sebaik-baiknya. Dan memang ketika kita hanya berada pada zona nyaman maka dapat dipastikan kita tidak akan maju, karena sukses harus dipaksa dan diri harus ditempa. Hal ini menjadi motivasi yang sangat berharga bagi kami sebagai mahasiswa Bidikmisi yang tidak boleh hanya bermalasan karena kuliah kami gratis dibiayai oleh negara. Padahal bercermin pada Mbak Birrul Qodriyah mahasiswa UGM yang menerima penghargaan sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi sekaligus mawapres inspiratif 2013, yang menyatakan bahwa beliau akan memberikan dan membalas jasa negara setelah lulus dan bekerja. Karakter mahasiswa Bidikmisi harus tangguh dan terus berusaha tanpa putus asa.

5.   Materi Ukhuwah Islamiyah dari Pak Nindya Candra Raharja (Alumnus Unnes FBS dan eks-Mapres Unnes) menyampaikan materi tentang tingkatan ukhuwah, dan pada akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa jangan pernah berpikir kita dimanfaatkan tetapi berusahalah untuk berpikir bagaimana kita menjadi bermanfaat. Pintar IP tinggi tapi tidak punya kepekaan sosial, tidak dapat dijadikan panutan di lingkungannya, maka percuma menjadi mahasiswa.


Terima kasih, semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmah... mohon maaf bila ada kesalahan penulisan... semua hanya curahan ide semata tanpa kaidah bahasa yang diajarkan oleh Pak Diamond (Dosen Bahasa Indonesia). Hehe ^_^

Senin, 22 Juli 2013

KEBERUNTUNGAN


Allah telah memberi modal yang sama kepada setiap orang berupa waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Jika setiap orang mempunyai modal yang sama, bagaimana caranya agar kita menjadi pedagang yang memperoleh keuntungan luar biasa di akhir perdagangan ini?
Apakah orang yang pandai mengelola waktu adalah orang yang waktunya habis untuk menekuni pelajaran-pelajaran kuliah? Ataukah orang yang sibuk bekerja dan mendapat uang yang banyak? Ataukah orang yang sibuk berorganisasi? Ataukah mereka yang lelah dan letih berpeluh berkeringat semata-mata untuk dunia?

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallammemgang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadikanlah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.’” Lalu Ibnu `Umar radhiyallahu `anhu berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka jangnlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. Bukhari).

Jangan kita habiskan hidup ini untuk mengejar jabatan, kedudukan, karir dan prestasi duniawi, sedangkan persoalan mendasar dalam agama justru kita sepelekan. Sungguh merupakan pengaturan waktu yang buruk ketika seorang muslim menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam sehari untuk dunia sedangkan waktu untuk mengurusi akhiratnya hanya dia sisihkan dari sisa-sisa waktu yang terselip.

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” (QS. Al-Kahfi: 104)

Alangkah jeli Imam Syafi’i rahimahullah tatkala berkata, “Jika kamu khawatir terjangkiti ujub atau merasa banyak amal, maka ingatlah tiga hal; ridha siapa yang kamu cari, kenikmatan manakah yang kamu cari, dan dari bahaya manakah kamu hendak lari. Maka barang siapa merenungkan tiga hal tersebut, niscaya dia akan memandang remeh apa yang telah dicapainya.”

Pertanyaan pertama, tentu akan kita jawab bahwa ridha Allah yang kita cari. Tapi apakah setiap langkah, gerak-gerik kita, diam dan bicara kita menunjukkan sebagai orang yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuannya? Bandingkanlah dengan usaha dan pengorbanan kita saat ingin mendapatkan ridha manusia; atasan, pemimpin, penguasa dan manusia seluruhnya. Niscaya kita akan menyadari, bahwa apa yang kita lakukan untuk keridhaan manusia dan keridhaan nafsu masih lebih dominan.

Pertanyaan kedua tentu akan kita jawab bahwa kenikmatan jannahlah yang kita cari. Tapi cobalah membandingkan; kerja kita untuk dunia dan kerja kita untuk akhirat, manakah yang lebih menonjol dari sisi kualitas maupun kuantitasnya? Padahal kerja akhirat kita untuk kenikmatan tiada tara dan tak ada habisnya.

Pertanyaan ketiga, tentu kita akan menjawab bahwa kita lari dari bahaya neraka. Lagi-lagi kita perlu mengoreksi secara jujur. Seberapa gigih usaha kita dalam menghindari neraka. Bandingkanlah dengan usaha kita tatkala takut dan lari dari penyakit, lari dari kemiskinan, atau ketika takut akan hilangnya kehormatan di mata manusia. Dengan memikirkan tiga hal itu, kita akan sadar betapa amal kita belum seberapa.


Sesungguhnya ilmu dicari untuk diamalkan, bukan hanya untuk menambah tumpukan catatan. Jangan lupa mengevaluasi diri (muhasabah) sebelum tidur. Perbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah.

“Teruslah Bermimpi Tetapi Jangan Lupa Untuk Mewujudkannya, Bangunlah Dan Wujudkanlah.... Sekarang, Tinggalkan Beban dan Bawalah Bekal Perjalanan....”

Sumber Bacaan: 
http://www.dakwatuna.com

MUHASABAH

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah SAW., bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

[Kegagalan] Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar menjadi orang yang pandai dan sukses.

[Aspek Ibadah]
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

[Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki]
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)

[Aspek Kehidupan Sosial Keislaman]
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:
“Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.

[Aspek Dakwah]
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]


“Haasibuanfusakum qobla antuhaasib” –Umar bin Khatab-


Sumber Bacaan:
www.dakwatuna.com

Kamis, 06 Juni 2013

Windows 7 Speech Recognition



Today I got information about an application for improving my English Speaking. I am so surprised when a lecturer show me the technology to train my pronounciation in daily. Speech Recognition has been serviced by Windows 7 since about 3 years ago . Wow! So surprising. And then I was very interested to try. I opened my Netbook and try to follow the steps to set up the Speech Recognition.

Speech recognition can help you avoid repetitive stress injuries, increase efficiency,  and even be fun. You can launch programs, dictate text, scroll Web pages, and more, all by voice. Here's how:
Step 1: Go to Start > Control Panel > Ease of Access > Speech Recognition, and click on "Start Speech Recognition."
Step 2: Run through the Speech Recognition Wizard by selecting the type of microphone you'll be using and by reading a sample line aloud.
Step 3: Once you've completed the Wizard, take the tutorial. We highly recommend going through the entire tutorial. It's a little long, but it will help you learn how to use speech recognition, while training your computer to learn the way you speak. It will teach you the basics, dictation, commanding, and working with Windows.
Step 4: After the tutorial, you'll see a speech recognition status window at the top of your screen. During your session, helpful information will display in the status window. You can also mouse-click on the microphone icon to enable or disable speech recognition.
Step 5: To further train your computer to learn your voice, click on the "Train your computer to better understand you." This will run through another series of sentences to read aloud.
Step 6: If you forget how to use parts of speech recognition, refer to the Speech Reference Card for help.

Tip: It's helpful to memorize keyboard shortcuts for actions you perform frequently. For example, you can say, "press F5" to refresh your browser or "press Control Tab" to switch tabs.
That's it. Now you know how to control your computer and dictate documents by voice. It might take a little time to get used to using voice commands, but hopefully it'll pay off in the end.

But it is important to speak fluently for the best pronounciation, so the Speech Recognition can detect what we say and the text would be typed correctly.

Wow It so Amazing :D I can build up my pronounciation skill using Speech Recognition.

Senin, 03 Juni 2013

MENGAPA DOA KITA TIDAK DIKABULKAN?


Doa merupakan suatu harapan yang kita minta kepada Alloh Subhanahuwata’ala yang kita harapkan untuk dikabulkan. Dalam berdoa, kita harus memperhatikan adab-adabnya. Marilah kita merenung sejenak, sudahkah benar ibadah kita? Mengapa terkadang doa yang kita panjatkan, sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi dan kita tidak mendapatkan Ridho-Nya?

Tata Cara Berdizikir Dan Berdoa
Qs Al-‘arof 205 (Berdzikir)
205.  Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Al-A’rof ayat 55 (Berdoa)
55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Maksudnya: melampaui batas tentang YANG DIMINTA DAN CARA MEMINTA.
          
Mengapa DOA di TOLAK.
“Jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu “, kata Abdul Qadir-Jailani dalam Mafatih al Ghaib. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa doa kita tak terkabul?
           
Ada Dua Sebab Mengapa Doa Tertolak:
Pertama, Tidak Memperhatikan Adab Berdoa, Baik Adab Lahir Maupun Adab Batin.
           Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang hamba Allah tetap dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk sesuatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim atau tak terburu-buru segera dikabulkan.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud terburu-buru?” Rasulullah menjawab, “Ia mengatakan, ‘aku telah berdoa tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan’, sehingga ia mengabaikan dan meninggalkan doanya itu,” (HR Muslim).
           Ketika suatu doa tak segera menampakkan tanda-tanda terijabah, maka seharusnya seseorang berbaik sangka kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT akan mengganti bentuk pengabulan doa dengan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi si pemohon atau ditunda pengabulannya hingga hari akhirat dalam bentuk deposito pahala.

Kedua, Perilaku Buruk.
Syaqiq al-Baikhi bercerita; ketika Ibrahim bin Adham berjalan di pasar-pasar Bashar, orang-orang mengerumuni beliau. Mereka bertanya, mengapa Allah belum juga mengabulkan doa mereka padahal telah bertahun-tahun berdoa, serta bukankah Allah berfirman, “Berdoalah kalian, maka Aku mengabulkan doa kalian.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Hatimu telah mati dari sepuluh perkara,” Yakni:
Pertama; engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan hakNya.
Kedua; engkau membaca kitab Allah, tetapi tidak mau mempraktikkan isinya.
Ketiga; engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunannya.
Keempat, engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunah beliau.
Kelima; engkau mengaku senang surga, tetapi tidak berbuat menuju kepadanya.
Keenam; engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa.
Ketujuh; engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kedelapan; engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri.
Kesembilan; engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur padaNya.
Kesepuluh; engkau menguburkan orang-orang, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Astaghfirulloh... apakah kita sudah memperhatikan kesepuluh perkara diatas?

Allah perintahkan “Berdoalah kepada-KU, niscaya AKU akan mengabulkanya”

Kajian Tafsir di Ibnu Sina oleh Bapak Anwar Sutoyo.
Senin 2 Juni 2013/ 24 Rajab 1434 H